kyai ku : kh hasyim hasan FATAH oleh K Jauhar Hata

Kelahiran dan Asal-Usulnya:Dilahirkan di dusun Jambansari Parakancanggah pada tanggal 7 Juli 1938 dengan nama Hasyim. Putera pertama dari tujuh orang putera-puteri KH. Hasan Fatah dengan Ny.  Sama’i ini sejak kecil tumbuh dan berkembang di bawah asuhan ayah da ibunya di lingkungan Pondok Pesantren yang telah di rintis oleh kakeknya KH. Abdul Fatah, putera Kyai Naqim (Maqim) dari sawangan Madukara.Hasyim kecil masih menjumpai kakeknya. Saat kakeknya wafat, ia masih berusia 4 tahun. Kondisi ini sangat memberikan pengaruh kejiwaan padanya di saat beinteraksi dengan sang kakek yang terkenal seorang yang ‘alim,faqih dan riyadloh.Sementara ibunya, Ny. Sama’i merupakan puteri ketiga dari H. Abdusshomad Koplak Banjarnegara. Kakek dari ibunya ini diriwayatkan berasal dari Yogyakarta.
Pendidikannya :Hasyim kecil mendapat bimbingan dan pendidikan  agama langsung dari ayahnya. Menurut riwayat, ayahnya sangat keras sekali dalam membimbing mengaji kepadanya agar mampu mengaji. Di samping itu, ia juga pernah mengaji kepada Kyai Ahmadi di pesantren Purwanegara.Di sela-sela mengaji tersebut, Hasyim kecil juga belajar di Sekolah Rakyat (SR) hingga tamat pada tahun 1953, kemudian meneruskan di SMP PGRI (sekarang menjadi Perguruan Taman Siswa) Banjarnegara hingga selesai pada tahun 1957.Selepas dari SMP, ia meneruskan pendidikan di PP Al-Wahdah lasem rembang, di bawah asuhan romo KH. Baedlowi Abdul Aziz.Selama mondok di lasem inilah pribadi hasyim benar-benar di bentuk sebagai calon ‘ulama’ dengan menmpa diri untuk memperdalam ilmu agama. Ketekunannya di pondok hingga dipercaya menjadi Lurah pondok di PP. Al-Wahdah Lasem, sehingga selain mengaji beliau juga di minta membantu Kyai untuk mengajar para santri serta ikut berdakwah di masyarakat. Pengalaman menjadi lurah pondok ini juga nantinya menjadikan pribadi Hasyim nantinya menjadikan pribadi Hasyim yang tengah menginjak usia remaja mampu mengorganisir dakwah di masyarakat maupun di pesantren.
Saat mondok di Lasem semua ‘Ulama’ yang ada menjadi tujuanya dalam mengaji, sehingga selain mengaji kepada KH. Baedlowi Abdul Aziz, juga mengaji kepada Mbah KH. Ma’shum, Syaikh Masduqi dan KH. Thoblawi Tuyuhan. Kyai Hasyim juga pernah tabarukan di tempat KH. Asya’ari PP. Poncol Beringin Salatiga untuk mengaji kitab Shahih Bukhori.
Pernikahanya :Setelah lama mondok di Lasem, akhirnya Allah SWT. Mentadirkan Kyai Hasyim mejadi menantu gurunya yaitu KH. Thoblawi Tuyuhan pada tahun 1962. Kyai Hasyim menikah dengan Ny. Siti Mas’udah puteri ketiga dari KH. Thoblawi Tuyuhan dengan Ny.Hj. Rabi’ah Adawiah Tuyuhan. KH. Thoblawi adalah putera pertama KH. Ibrohim, seorang ‘ulama’ dari Tuyuhan Lasem yang memiliki garis keturunan dari Mbah Sambu (Sayyid Abdurrahman Basyaiban) Lasem.Setelah menikah, Kyai Hasyim masih meneruskan ngaji di pondok. Tiga tahun kemudian pada tahun 1965, beliau mulai hidup bersama istri dengan memboyongnya ke parakan canggah.Kehidupan awal rumah tangga beliau benar-benar dimulai dari titik nol, sehingga lika liku kehidupan yang serba sulit pernah di laluinya. Meski demikian, kesibukanya mencukupi kehidupan keluarga tidak menghalanginya untuk terus membantu ayahnya dalam mengaji kepada para santri.Dari pernikahan tersebut, hingga wafat kyai Hasyim di karuniai 8 anak dan 16 cucu. Semua putera-puterinya senantiasa tidak pernah lepas dari pendidikan pesantren.
Mempelopori pengmbangan PP Al-Fatah :Perkembangan dan kemjuan PP Al-Fatah saat ini tidak terlepas dari pemikiran dan perjuangan Kyai Hasyim. Saat pulang dari pesantren Lasem, kondisi PP Al-Fatah masih sangat sederhana. Saat itu yang berkembang hanyalah murid Thoriqoh Naqsabhandiyyah- Kholidiyyah dan Pondok putera. Dari sisi fisik pun juga hanya berupa bangunan masjid dan kamar santri saja.Melihat kondisi yang seperti ini dalam catatan  pribadinya Kyai Hasyim pada wal perjuangannya bersama ayahnya KH. Hasan Fatah, pamanya KH. Ridlo Fatah dan adiknya KH. Ali Hanan membenahi dan mengembangkan PP Al-Fatah agar semakin maju dan berkembang.

Usaha tersebut semakin gencar lagi saat beliau meneruskan ayahnya sebagai pengasuh dan mursyid Thoriqoh semenjak di tingal wafat ayah nya pada tahun 1990. Di antara perjuangan dan pengembangan PP Al- Fatah Banjarnegara yang beliau pelopori antara lain:1.       Pembangunan Aula PP Al-FatahPembangunan ini bermula karena belum adanya tempat pengajian bagi ibu-ibu muslimat di lingkungan pondok. Akhirnya tanah wakaf Mbah KH. Hasan Fatah yang asalnya berupa kolam di bangunlah aula dengan dana yang di dapat dari swadaya jama’ah serta ikhwan Thoriqoh.2.       Pembangunan Pondok pesantren Putri Al-FatahPerintis dan pembangunan PP Puteri Al-Fatah ini di awali dengan upaya mencari dana untuk memberi tanah dari keluarga almarhum Mbah KH. Hamzah hingga pembangunan gedungnya. KH hasyim saat itu bertindak sebagai ketua panitia, Mbah KH. Ridlo sebagai sekertaris, sementara KH. Ali Hanan yang berusaha mencari donasi dari pihak luar (pemerintah). Atas usaha keras ini, akhirnya terbangun dua lantai untuk PP Puteri Al-Fatah.3.       Pembangunan Gedung PasulukanPada mulanya tempat pasulukan sangatlah sederhana, sehingga di kembangkan dengan pembangunan gedung berlantai dua. Pembangunan ini juga di pelopori KH. Hasyim Hasan bersama Mbah KH. Ridlo Fatah. Adapun pendanaan berasal dari infaq para ikhwan/ikhwati Thoriqoh.4.       Pengembangan Tanah WakafKarena sangat terbatasnya lahan PP Al- Fatah, KH. Hasyim bersama KH. Ridlo memprakarsai perluasan tanah wakaf di daerah Pacet dengan mengajak ikhwan/ ikhwati Thoriqoh untuk turut andil dalam wakaf. Tanah yang dibeli adalah tanah keluarga almarhum KH. Hamzah saat ini bisa di manfaatkan untuk gedung MTs Al-Fatah, SMK Al-Fatah dan MA Al-Fatah.5.       Pembangunan Sekolah Formal di Lingkungan PP Al-FatahRintisan sekolah formal di lingkungan di mulai dengan pendirian Yayasan PP Al-Fatah pada tahun 1975 yang di ketahui pertama kali oleh Kyai Hasyim. Dari sinilah kemudian KH. Ali Hanan di batu KH. Zainal Abidin merintis berdirinya sekolah MTs, MA hingga SMK. Terlebih setelah Kyai Hasyim Agak terganggu keshatanya, kepengurusan Yayasan Al-Fatah di teruskan KH. Ali Hanan.6.       Pembangunan Masjid PP Al-FatahGagasan renovasi Masjid, di munculkan KH. Hasyim setelah beliau pulang menunaikan ibadah haji yang ke dua (1997), hingga akhirnya saat ini masjid dibuat menjadi dua lantai. Sebagian besar dana pembangunan Masjid berasal dari infaq ikhwan dan ikhwati Thoriqoh serta para jama’ah Masjid.7.       Pembangunan Asrama Putera PP Al-FatahKarena kondisi bangunan semakin memprihatinkan, KH. Hasyim mempelopori pembangunan asrama putera dengan dari para ikhwan/ikhwati Thoriqoh serta para wali santri. Pembangunan tahap pertama pada komplek asrama sebelah barat yang di bangun dua lantai. Kemudian tahap kedua komplek asrama sebelah timur hingga menjelang akhir hayat beliau,Al-hamdulillah atas izin Allah swt telah berdiri tegak dua unit gedung asrama puetra dua lantai beserta kamar mandi yang sangat representatif.

Kegigihannya sebagai pendidik
Setelah menikah, kehidupan Kyai Hasyim diawali dari titik nol. Sebagai alumni pesantren, Kyai Hasyim memiliki aktifitas yang utama membantu ayahnya KH. Hasan dalam mengajar para santri. Meskipun kondisi ekonomi serba pas – pasan semangat Kai Hasyim untuk mendidik santri tidak pernah lelah.
Pada mulanya, Kyai Hasyim mengajar pengajian kitab – kitab kuning bersama KH. A. Dalimi. Disamping itu pernah pula K. Azizi Thoblawi dan KH. Mujtahidi Thoblawi (adik Ibu Ny. Hj. Mas’udah Hasyim) saat masih lajang turut membantu mengajar mengaji.
Kegiatan rutin KH. Hasyim di pondok biasanya setiap ba’da shubuh sorogan kitab santri puteri, ba’da dluhur sorogan kitab santri putera, kemudian ba’da ashar mengaji kitab, di lanjutkan ba’dal ‘isya juga untuk mengaji hingga larut malam.
Di siang hari di samping bertani, Kyai Hasyim juga pernah berdagang serta menjadi guru honorer di PGAN Banjarnegara selaa 6 tahun serta menjadi Hakim Honorer di Pengadilan Agama Banjarnegara.
Kegiatan pengajian kitab tersebut semakin padat lagi jika telah memasuki bulan Ramadhan. Pengajian bulan Ramadhan dilakukan hampir tiap waktu sampai malam hari.
Kegiatan pengajian kitab ini dilakukan Kyai Hasyim dengan sangat telaten dan istiqomah. Sampai terkadang jika santri belum ada yang datang, beliau tidak segan-segan untuk mengaji.
Saat ayahnya KH. Hasan wafat pada tahun 1990, aktifitas Kyai Hasyim semakin padat lagi. Di mana beliau beliau selain menjadi pengasuh PP Al-Fatah, juga sebagai mursyid Thoriqoh Naqsyabandiyyah Kholidiyyah. Aktifitas Kyai Hasyim di samping mengajar mengaji santri juga membimbing para murid Thoriqoh, terutama di saat sedang suluk di bulan Muharram, Rajab, dan Ramadhan.
Bagi masyarakatKyai Hasyim merintis pengajian lapanan setiap hari Ahad wage beserta Pengurus Cabang NU Banjarnegara saat itu di aula PP Al-Fatah. Pengajian ini hingga saat ini masih terus berlangsung. Kemudian beliau juga merintis pengajian kitab Ihya Ulumuddin karya Imam Al-Ghazali setiap Ahad pagi di serambi Masjid Al-fatah.
Di saat putera-puteri beliau telah selesai mondok, kegiatan pengajian Kyai Hasyim dibantu oleh putera-puteri serta puteramenantu beliau. Salah satu sifat yang beliau miliki sepengetahuan penulis, Kyai Hasyim senang mengkader yang muda-muda untuk turut mengajar mengaji dan berjuang. Pengalaman penulis, saat bulan Sya’ban 1416 H menikah dengan puteri beliau (Fitri Muhlishoh ), pada bulan Ramadhan langsung diminta mengajar kitab yang cukup banyak, meskipun secara fisik beliau masih memungkinkan mengajar.
Begitu pula di setiap menghadiri pengajian di masyarakat, beliau sering mengajak yang muda-muda untuk berkiprah. Pengalaman penulis sendiri, jika mendampingi beliau di setiap pengajian, beliau sering menyuruh penulis memberikan pengajian dahulu, baru kemudian beliau memberikan mau’idlah yang terakhir dan menutup dengan doa.
Karena itu, setelah beliau sakit cukup parah pada tahun 2003 di Rsu Margono, meski secara fisik kesehatan menurun, namun belau tetap terus mengajar dan membimbing. Beliau selalu mengontrol jika ada pengajian yang masih kosong untuk diisi. Bisa dikatakan, dalam kondisi sakit, Kyai Hasyim membimbing yang muda-muda dengan cara memberikan kesempatan dan dorongan kepada mereka untuk mbadali (menggantikan) jadwal mengaji beliau.Beliau sangat gembira sekali jika melihat yang muda-muda bisa mengajar ngaji kapada para santri maupun masyarakat.
Wal hasil,meskipun beliau sudah lemah fisiknya masih terus membimbing dan mendidik.sampai,tatkala detik-detik menjelang wafat, beliau sebenarnya dalam posisi menghadiri pengajian kitab kifayatul atqiya’ bersama para kyai yang diadakan rutin oleh idaroh syu’biyyah Jam’iyyah ahlith Thoriqoh al-Mu’tabaroh al-Nahdliyyah Kabupaten Banjarnegara.

Perjuangannya Membentengi Aswaja
Si sela-sela mengajar dan berbagai aktifitas tesebut, Kyai Hasyim selalu menyempatkan aktif di berbagai organisai kemasyarakatan dan keagamaan, terutama di bawah naungan Nahdlatul Ulama’ (NU). Diawali sebai ketua PC GP Anshor Kabupaten Banjarnegara, kemudian menjadi ketua PCNU Banjarnegara, Rois Syuriyah PCNU Banjarnegara, mustasyar PCNU Banjarnegara, Rois Idaroh Su’biyyah Jam’iyyah ahlith Thoriqoh al-Mu’tabaroh al-Nahdliyyah (JATMAN) Kabupaten Banjarnegara, Rois Awwal Idaroh wustho JATMAN Provinsi Jawa Tengah dan anggota Majlis Ifta’ Idaroh aliyah JATMAN.
Perjuangan KH. Hasyim selain menjadi guru, Ustadz, Kyai, hakim juga dihabiskan untuk memperjuangkan Jam’iyyah Nahdlatul Ulama’hingga akhir hayatnya. Seperti diketahui, saat beliau wafat, Kyai Hasyim masih tercatat sebagai Mustasyar PCNU Banjarnegara dan Rois Idaroh Syu’biyyah JATMAN Banjarnegara.
Semangat perjuangan KH. Hasyim melalui Jam’iyyah NU karena didasari perjuangan untuk membela ‘aqidah ahlisunnah wal jama’ah (ASWAJA). Menurut pengamatan penulis, KH. Hasyim jika dalam kondisi sehat selalu berusaha hadir di setiap ada acara pertemuan para ‘alim ‘ulama’, baik pada forum Muktamar NU, Muktamar Thoriqoh, Munas NU, Munas Thoriqoh maupun Manaqib Kubro Thoriqoh. Kecintaan pada Jam’iyyah NU dan Thoriqoh dilandasi karena kecintaan beliau pada para ‘ulama’ sebagai pewaris para nabi. Beliau sangat senang sekali bila bisa silaturrahiem dengan para ‘ulama’ .
Pertemanan dengan Gus DurKetekunan Kyai Hasyim dalam menggerakan Jam’iyyah NU menjadikan dirinya memiiki relasi dengan para tokoh NU baik tingkat lokak maupun nasional. Relasi yang sangat erat terjadi dengan KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Menurut Kyai Hasyim, kedekatan dengan Gus Dur bermula saat acara halaqoh di Cilacap, kemudian diteruskan saat Gus Dur bersedia menjadi pembicara saat Haflah Akhirussanah PP Al-Fatah serta Apel Akbar NU di Alun-alun Banjarnegara.
Kejadian yang tak pernah terlupakan bagi Kyai Hasyim bersama Gus Dur adalah, tatkala akan menuaikan ibadah haji pertam kali pada tahun 1991. Saat itu karena Kyai Hasyim menuaikan ibadah haji dengan paspor hijau mendapat kesulitan mengurus visa di Kedutaan Saudi Arabia, karena musim haji tahun itu bersamaan presidan Soeharto juga menuaikan ibadah haji, sehingga sangat ketat sekali bagi mereka yang akan berhaji dengan paspor hijau.
Di tengah keputusasaan untuk mengurus visa tersebut, Kyai Hasyim sowan ke Gus Dur yang saat itu menjadi Ketua Umum PBNU di kantor PBNU Jl. Kramat Raya. Saat bertemu  Gus Dur Kyai Hasyim menceritakan niatnya untuk pergi haji dan Gus Durpun menyambut dengan senang sekali, namun Kyai Hasyim menceritakan kesulitan mengurus visa, spontan Gus Dur mengetik sendiri untuk membuat surat ke Kedubes Arab Saudi, setelah mendapat surat tersebut Kyai Hasyim segera bergegas ke Kedubes Arab Saudi dengan menyampaikan surat dari Gus Dur. Akhirnya atas izin Allah, tidak berselang lama Kyai Hasyim diberi visa oleh Kedubes Arab Saudi dan segera berangkat ke tanah suci untuk menunaikan ibadah haji.
Kedekatan Kyai Hasyim dengan Gus Dur juga penulis saksikan sendiri, saat penulis akan wisuda S-2 di IAIN(UIN) Syahid Jakarta pada tahun 1998,saat itu meski Gus Dur dalam kondisi sudah tidak bisa melihat, baru mendengar suara Kyai Hasyim langsung menyambutnya dan mengenali akan kehadiran Kyai Hasyim dan Nyai Hasyim, sehingga Gus Dur mengajak bicara cukup lama seperti sahabat yang lama tak bertemu.Pertemuan Kyai Hasyim dengan Gus Dur berikutnya Setelah Gus Dur tidak menjadi presiden. Sehabis menghadiri acara walimatul ‘Ursy di Kebumen Gus Dur menyempatkan silaturahim ke kediaman Kyai Hasyim.
KH.Hasyim Hasan SakitDalam perjalanan hidupnya, Kyai Hasyim pernah mengalami dua kali kecelakaan lalu lintas yang cukup parah. Pertama saat perjalanan dari Banjarnegara menuju Wonosobo yang mengakibatkan patah tulang. Kedua saat perjalanan pulang dari Demak keBanjarnegara. Dari kedua peristiwa tersebut, secara medis memberikan dampak yang cukup berpengaruhpada kesehatan Kyai Hasyim di masa masuki usia senja.Pada tahun 2003, setelah menunaikan shalat Idul Fitri Kyai Hasyim merasa kurang sehat. Akhirnya, karena di Banjarnegara para dokter Rumah Sakit masih banyak yang cuti dibawa ke RSUD Margono Purwokerto. Setelah di bawa ke RSUD Margono rupanya kondisi kesehatan beliau semakin parah, sehingga sempat di rawat hampir satu bulan. Atas izin Allah swt, Kyai Hasyim masih diberi umur panjang dan diberi kesembuhan.Meskipun telah sembuh di usianya menginjak 66 tahun tersebut, kondisi fisik Kyai Hasyim mualia menurun, sehingga banyak aktivitas yang mulai dikurangi dengan memberikan kepercayaan kepada yang muda-muda untuk menggatikan. Selain dari itu, sejak sakit yang cukup parah tersebut, Kyai Hasyim berkali-kali masuk Rumah Sakit, baik di RSI Banjarnegara, RSUD Banjarnegara maupun RSU Nirmala Purbalingga. Bahkan pernah pula berobat ke Rumah Sakit Paru-paru Salatiga.
KH. Hasyim Hasan WafatMenjelang Kyai Hasyim wafat, sebenarnya kondisi beliau sedang tidak merasakan sakit yang berarti. Bahkan bisa dibilang saat menjelang wafat beliau dalam kondisi sehat sekali dibandingkan hari-hari sebelumnya.Enam hari sebelum wafat (Minggu Pon, 14 April 2013) Beliau mengundang seluruh anak cucu Mbah KH. Hasan untuk mengadakan pertemuan Bani Hasan Fatah di kediaman beliau. Dua hari sebelum acara tersebut, beliau memerintahkan penulis untuk membuatkan undangan. Akhirnya pertemuan pun terlaksana pada hari Minggu Pon tersebut mulai jam 09.30. Keluarga besar Bani KH. Hasan Fatah yang tinggal di Banjarnegara hampir semua menghadiri acara tersebut. Acara ini menjadi istimewa karena tidak mengira jika saat itu merupakan ajang pertemuan terkhir Kyai Hasyim, karena enam hari setelahnya beliau wafat.Pada hari Selasa Kliwon, 16 April 2013, Kyai Hasyim ta’ziyah ke Wonosobo atas wafatnya KH. Taftazani Damanhuri, sepupu beliau ( Ibu KH. Taftazani adalah kakak Mbah KH. Hasan). Bahkan saat pelepasan di Masjid Al-Fatah pun Kyai Hasyim juga melepasnya dengan memberikan sambutan dan doa. Banyak yang merasakan bahwa saat memberikan sambutan tersebut, Kyai Hasyim nampak sehat dan lantang sekali suaranya.Pada hari Kamis, 18 April 2013, KH. Ahmad Warson Munawwir wafat. Bagi Kyai Hasyim hubungannya dengan Kyai Warson semakin dekat karena sama-sama memiliki putera yang besannya sama dari Kediri. Karena itu,  putera-puteri beliau banyak yang bertakziyah ke Yogyakarta. Pada hari Jum’at, 19 April 2013 pagi, penulis seperti biasa setelah dari Yogyakarta menjumpai beliau kediaman. Kyai Hayim tampak sehat sekali, menanyakan kabar dari Yogyakarta, menanyakan petugas khotbah Jum’at, di mana saat itu jika petugas berhalangan pesan beliau supaya penulis menyiapkan diri menjadi badal. Jum’at siang, beliau menuaikan shalat jum’at yang kebetulan berangkat ke Masjid beriringan dengan penulis.Saat shalat Jum’at –di mana penulis menjadi Khotib- beliau benar benar tampak sehat. Seusai Khotbah, beliau mengingatkan adiknya KH. Bunyamin agar nanti di adakan sholat ghoib untuk untuk al-Maghfurlah KH. Warson Yogyakarta. Seusai sholat Jum’at, beliau juga memimpin langsung acara tawajjuhan, penulis juga masih sempat menemani beliau di ndalem untuk duduk-duduk dan berbincang-bincang di ruang tengah. Salah satu materi perbincangan adalah menanyakan persiapan acara ziaroh wali songo dan pengajian Sabtu Wage. Disaat bincang-bincang, beliau juga menerima tamu wali santri dari Bakal Batur dengan anaknya yang sebentar lagi akan mengikuti UN Mts. Kyai Hasyim terus memberikan arahan untuk shalat malam dan banyak membaca shalawat.Pada Jum’at malam Sabtu (ba’dal isya’), penulis menelpon di ruang tengah ndalem, kemudian karena beliau mendengar suara penulis, beliau memanggil-menggil dari dalam kamar untuk di tuntun ke ruang tengah. Saat duduk-duduk di ruang tengah beliau banyak mengajak berbincang-bincang dengan penulis, termasuk menanyakan jumlah jama’ah ziaroh walisongo berapa bus dan dari mana saja serta persiapan acara pertemuan Kyai besok Sabtu Wage. Tidak lama kemudian, istri penulis (Hj. Fitri ), Mbak Hj. Durroh, Mas H. Syafi’ dan temasuk Ibu Ny. Hj. Hasyim ikut berkumpul bersama. Pembicaraan akhirnya semakin hangat lagi hingga agak larut malam.Sabtu Wage, 20 April 2013, dikisahkan beliau malam harinya banyak nderes surat-surat pendek dan membaca sholawat. Bahkan, kegiatan itu dilakukan beliau juga beberapa malam sebelumnya. Sampai waktu shubuh, beliau masih menunaikan shalat shubuh. Sehabis shalat shubuh, seperti biasa beliau duduk di ruang tengah, lalu ketika matahari mulai terik berjemur hingga menjelang pukul 09.00. setelah berjemur kemudian kembali ke ruang tengah untuk persiapan sarapan pagi. Saat itu juga masih ada tamu yang mengkhabarkan akan bai’at thoriqoh serta ada santri yang minta do’a restu akan mengikuti perlombaan porseni yang dilaksanakan hari itu di aula PP Al-Fatah. Setelah selesai makan pagi beliau istirahat di kamar, sambil pesan bila nanti telah berkumpul para Kyai di ruang depan akan menghadiri acara pengajian kitab Kifayatul Adqiya’ tersebut.Tidak berapa lama, sekitar pukul 09.50 menjelang dimulainya acara pengajian, beliau terasa pegal dan sesak. Saat itu telah berkumpul sekitar 50 lebih para Kyai yang akan mengikuti pengajian dan musyawarah. Akhirnya beliau berpesan supaya penulis memulai acara musyawarah para Kyai terebih dahulu.Karena kondisi beliau semakin kurang baik, sekitar pukul 10.30 keluarga akhirnya membawa beliau ke RSUD Banjarnegara. Setelah di UGD RSUD Banjarnegara tidak berapa lama kemudian sekitar pukul 11.15 Allah SWT menghendaki beliau untuk sowan kepada-Nya, Innaa lillahi wa innaa ilaihi roji’uun.

Zakat Fitri (فَصْلٌ زَكَاة الْفِطْرِ)

Gambar terkait

assalamualaikum wr. wb.

Alhamdulillah kita dapat berjumpa lagi di situs ini dengan tema yang sudah berbeda. Kali ini kita akan membahas tentang Zakat Fitri atau bisa disebut dengan zakat fitrah. zakat fitrah ini adalah zakat yang sangan spesial, karena zakat ini hanya dikerjakan pada bulan Ramadan saja. adapun yang diwajibkan membayar zakat fitrah adalah sebagai berikut :

islam. Artinya apa, zakat ini hanya wajib bagiorang islam saja dan tidak bagi orang yang kafir.

( Menemui masa) غُرُوبُ الشمس من اخر يَوم من شَهر رَمضَانَ . masa atau waktu yang di wajibkan adalah terbenamnya matahari pada akhir bulan Ramadan.( Fathul Qorib). Dan disunahkan mengeluarkan zakat sebelum sholat Ied, dan Jawaz/ boleh mengeluarkan zakat pada awal bulan Ramadan, dan Makruh mengakhirkan zakat pada akhir hari Ied, dan Haram mengakhirkan zakat dari hari Ied dengan tanpa Udzur seperti hilangnya harta atau Mustahiq (Tanwirul Qulub)

Memiliki Harta yang lebih. Maksudnya adalah kebutuhan makanan yang bisa menghidupi hari itu sampai hari raya.

saat seseorang wajib membayar zakat, maka ia harus mengeluarkan satu Sho’ makanan pokok di daerahnya. satu sho’ adalah 5 1/3 rith dalam takaran Iraq. kalau di Kilokan kuranglebih 2,7 Kg. anggap saja 3Kg.

Mustahiq Zakat

Zakat diberikan kepada 8 golongan. Seperti yang Alloh firmankan dalam surah At – Taubah ayat 60. Siapa sajakah 8 golongan yang dimaksud?

Orang fakir. Adalah orang yang tidak memiliki harta atau pekerjaan yang bisa mencukupi kebutuhannya

Orang miskin. Adalah orang yang memiliki harta dan pekerjaan namun kurag mencukupi kehidupannya

‘Amil. yaitu orang yang dipilih oleh pemimpin untuk mengurusi zakat dan membagikannya.

Orang yang hatinya lemah. yang dimaksud disini adalah orang Mualaf yang imannya masih lemah.

Riqob. Adalah budak Mukatab dengan akad kitabah yang sah.

Ghorim. adalah orang yang berhutang demi kemaslahatan. Ghorim diberizakat hanya hutangnya masih menjadi tanggungannya.

Sabilillah. Mereka adalah para relawan jihat yang tidak digaji pemerintah.jikalau jaman dahulu adalah prajurit perang, namun sekarang adalah para kiyai yang melakukan perang dengan dakwahnya.

Ibnu Sabil. Ini Adalah orang yang akan melakukan perjalanan dari daerah zakat atau orang yang melewati daerah zakat. Pemberian kepada golongan ini disyaratkan adanya Hajat dan tidak adanya maksiat.

sekian semoga bermanfaat.Amiin

Kyai Ku : Karomah Aulia’ (keajaiban Tongkat Sunan KaliJaga)

Kisah Karomah Sunan Kalijaga memang begitu banyak versinya, karena memang begitu banyak karomah yang beliau miliki. Sang Sunan yang membawa Islam hingga besar di daerah Pulau Jawa ini memiliki banyak warisan untuk para umat Islam, diantaranya Ilmu Ilmu Kejawen, Ilmu Kebatinan dan Ilmu-Ilmu Spiritual serta Ilmu Hikmah. Selain itu juga meninggalkan pusaka pusaka bertuah seperti keris, rompi Ontokusumo, tasbih kayu bertuah serta tongkat sakti. Nah, yang akan dibahas dalam artikel ini adalah mengenai tongkat Sunan Kalijaga yang menjadi salah satu karomah sang Wali.

Tongkat Sunan Kalijaga ini punya kisah unik dan menakjubkan, dimana Masjid Kedondong yang terletak di Yogyakarta lah yang menjadi saksi sejarahnya. Sebuah masjid di wilayah Semaken 1, Banjararum, Kalibawang, Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta ini menjadi masjid tertua di Kulon Progo. menurut cerita turun temurun, masjid yang juga dikenal dengan nama Masjid Sunan Kalijaga itu dibangun sebelum Masjid Demak.

Di sekitar area Masjid Kedondong terdapat sebuah sungai bernama sunga Tinalah yang dahulu digunakan Sunan Kalijaga untuk beristirahat dari pengembaraannya dalam menyebarkan agama Islam. Saat itulah, Sunan Kalijaga meminta muridnya yang bernama Adipati Terung untuk membangun masjid. Sunan Kalijaga menandai lokasi dengan menancapkan tongkatnya untuk dibangun masjid. Disinilah awal kisah keajaiban Tongkat Sunan Kalijaga.

Tongkat Sunan Kalijaga Berubah Wujud Menjadi Pohon Angsana
Hasil gambar untuk sunan kalijaga

Setelah Sunan Kalijaga memerintahkan Adipati Terung, beliau meletakkan tongkatnya di sebuah tanah di bagian timur sungai yang disebut sebagai tetenger atau tanda dibangunnya sebuah bangunan masjid. Setelah menancapkan tongkat ke tanah, Sunan Kalijaga kemudian memutuskan kembali ke Demak karena ada sebuah urusan yang penting dan beliau pun berjanji untuk kembali ke daerah itu guna melihat masjid yang sudah terbangun.

Namun sayangnya tongkat Sunan Kalijaga yang digunakan sebagai Tetenger ini tidak dihiraukan oleh muridnya. Setelah mendapat perintah dari Sunan Kalijaga itu lalu Adipati Terung meneliti tanda tau tetenger (pembangunan) dari Sunan Kalijaga. Setelah diteliti, tongkat itu dekat dengan sungai. Adipati Terung lalu berpikir masjid nanti bisa terkikis oleh Sungai Tinalah tersebut. Oleh Adipati Terung, tanda itu digeser agak ke timur sekitar 100 meter dari tetenger. Bangunan masjid akhirnya didirikan tidak sesuai anjuran Sunan Kalijaga.

Setelah kembali ke daerah tersebut dan mengetahui bahwa masjid yang dibangun tidak sesuai dengan perintah Sunan Kalijaga, maka beliaupun kecewa. Masjid belum selesai dan belum diberi atap. Ia berkata ‘bodho temen opo wis tak tetenger ora dilaksanakan masjid ora dikei tutup atau atap ( bodoh sekali, udah dikasih tanda tidak dilaksanakan, masjid ga dikasih atap)’, akhirnya bagian atas masjid diberi daun alang-alang sebagai pengganti atapnya. Karena sikap Adipati Terung yang tidak mendengarkan perintah Sunan Kalijaga itu, ia lalu dikenal dengan sebutan nama Adipati Bodho atau Panembahan Bodho.

Menurut pengurus Masjid Kedondong, Tongkat Sunan Kalijaga yang dahulu digunakan sebagai tetenger pun masih sampai sekarang. Bahkan tongkat ajaib itu kini berubah menjadi pohon Angsana yang dapat dilihat dari area Masjid dan tumbuh begitu subur. Pasalnya, saat ini lokasi tetenger dari Sunan Kalijaga juga masih jauh dari Sungai Tinalah. Bahkan, di dekat tetenger itu juga muncul belik atau mata air yang hingga saat ini airnya masih keluar. Luar biasa bukan?

Itulah keajaiban tongkat Sunan Kalijaga sebagai kisah karomah Wali songo sang Sunan Kalijaga. semoga bermanfaat.

Amd Perkenalkan Prosesor Laptop Ryzen Pro Generasi Ke Dua

Tahun lalu, AMD memperenalkan prosesor Ryzen Pro Generasi Pertama yang ditargetkan untuk laptop bisinis mainstream. Pada awal pekan ini, AMD telah memperbarui keluarga prosesor mobil andalannya itu dengan meluncrkan Ryzen Pro generas ke – 2. Kehadiran Ryzen Pro generasi ke – 2 ditandai oleh tiga model perdana yang terdiri dari Ryzen 7 Pro 3500U. Dengan adanya embel – embel “U” di belakang nomor seri, maka sejumlah prosesor yang diluncurkan AMD ini diklaim hemat energi dengan arsitektur 12 nm dan Thermal Design Power ( TDP ) 15W. AMD Redeon VII, Kartu Grafis “Gaming” pertama dengan Arsitektur 7nm Ketiga prosesor Ryzen Generasi Dua ini dibekali dengan pengolah grafis (GPU) terinterasi seri Radeon Vega dengan konfigursi berbeda antar prosesor. Ryzen 7 Pro 3700U duduk diposisi teratas dengan dibekali CPU 4 core dan 8 thread. Base clok 2,3 GHz dngan kecepatan turbo hingga 4,0 GHz, berikut cache L2 + L3 sebesar 6 MB dan GPU Radeon Vega 10. Di bawahnya ada Ryzen 5 pro 3500U yang memiliki jumlah core CPU dan cache yang sama dengan Ryzen 7 Pro 3700U. Hanya saja, kecepatan base clok dan turbo dipatok lebih rendah, masing – masing 2,1 GHz dan 3,7 GHz, dengan GPU Radeon Vega 8. Lalu untuk model ketiga, yaitu Ryzen 3 Pro 3300U, combined cache sebesar 6 MB, serupa dengan dua eri sebelumnya, dan GPU Radeon Vega 6.

AMD Ryzen Generasi 2 diliris dalam 4 seri selain memperkenalkan Ryzen Pro Athlon Pro 300U. Prosesor ini dibekali dengan CPU 2 core dan 4 thread. Base clock Athlon Pro 300U dipatok diangka 2,4 GHz dengan kecepatan turbo hingga 3,3GHz dan cache L2 + L3 sebesar 5 MB. Pleh grafis ditangani oleh GPU terintegrasi Radeon Vega 3. Sebagaimana dirangkum Kompas Tekno dari Anandtech, Rabu (10/4/2019), keempat prosesor ini bakal tersedia pertama kali di laptop merek HP dan Lenovo waktu dekat. Vendor lain diprediksi akan menyusul belakangan tahun 2019.

https://tekno.kompas.com/read/2019/04/10/20110017/amd-perkenalkan-prosesor-laptop-ryzen-pro-generasi-kedua.



Kyai Ku : Biografi KH Hasan Fatah (pemimpin Generasi Ke Dua PP Al FAtah)

Hasil gambar untuk kh hasan fatah

Mbah Hasan adalah putra ketiga dari mbah Abdul Fatah, nama asli beliau adalah Subalyo.Mbah Hasan diajak untuk naik haji oleh mbah Abdul fatah pada tahun 1921. Beliau hampir dua tahun di Makkah dan beliau menyempatkan untuk belajar di Makkah kurang lebih dua tahun. Sepulang beliau dari Makkah,beliau sempat membantu ayahnya (mbah Fatah) dalam pembangunan Pondok Pesantren Al-Fatah. 
Beliau dinikahkan dengan janda anak saudagar mbah putri shomad keturunan keraton jogja bernama Ny. Sama’i. Mbah hasan adalah seorang yang lincah, politikus, kyai, dan ulama’. Dan beliau bergabung dalam AUI (Angkatan Ulama Islam) yang berlokasi di somalayu,Kebumen. Waktu itu AUI sudah melakukan pemberontakan kepada Belanda. Beliau menjadi prajurit di AUI selama satu tahun. Berbeda pada waktu itu masyarakat Indonesia memberontak Belanda yang bersenjatakan bambu runcing, sedangkan beliau menggunakan tasbih. Pada waktu itu, Belanda kesulitan mencari desa Somalayu. Sebenarnya mbah Fatah tidak setuju jika mbah Hasan bergabung dalam AUI, tetapi mbah AUI,meletus gerakan kemerdekaan indonesia,pada saat itu juga keluarga beliau di suruh untuk mengungsi semua.Pada saat belanda gencar gencarnya menggempur Indonesia, termasuk komplek PP Al-Fatah, di bumi hanguskan oleh belanda.KH.Hamzah menjadi korban dalam kejadian tersebut dan semua kelurga mbah hasan bertemu(berkumpul)di Jetis, Wonosobo.Setelah kemerdekaan RI keluarga mbah hasan pulang dan mendirikan pondok,masjid dengan bambu. Salah satu santrinya ada yang dari sumatra, bahkan Malaysia. Waktu itu santri mbah Hasan kurang lebih 20 santri. Tapi dari 20 santri tersebut mereka berhasil menadi orang besar, Ulama’. Salah satunya KH.Muntaha, KH.HASAN (Gunung Tawa), KH.Zainudin Tempel(Kreteg).Mbah Hasan adalah orang salaf, Beliau di tunjuk untuk mengurusi TORIQOH, dan di bantu oleh istrinya. Ny.Samai’ adalah orang pertama yang mendirikan madrasah di Banjarnegara, yang pada waktu itu masih di beri SR(Sekolah Rakyat).Orang NU mengusulkan untuk mendirikan MWB(Madrasah Wajib Belajar). Kemudian Kementrian Agama menbuka lowongan bekerja Guru di MWB. Mbah Hasan dulunya bukan di pihak NU tetapi di pihak SI. Juga kut mengurus MASYUMI. Suatu saat ketika mbah Fatah wafat wafat,  Beliau bingung, Pilih SI atau MASYUMI. Setelah itu beliau brmimpi bertemu KH.Rifa’i, Setelah itu beliau menemui KH.Rifa’i dan beliau di suruh masuk NU. Beliau juga ikut Toriqoh dan Qiro’ah Sab’ah di tempat KH.Rifa’i selama 40 hari. Mbah Hasan pada waktu itu juga ikut serta dalam mendirikan NU. Pada saat itu NU pertama di asrikan di Purworejo,  Klampok, Banjarnegara, Sebagai pusatnya.Mbah Hasan adalah pelopor pembangunan masjid Al-Fatah sekitar Tahun 60’an. Mbah Hasan tidak mau di sebut menjadi pimpinan. Karena menurut beliau, Ini adalah pondok pesanntren bukan perusahaan.Setelah istri mbah Hasan wafat, Beliau menikah lagi dengan Ny.Khoiriyah. Putri dari KH.Baedlowi ,Lasem, Rembang.Mbah Hasan adalah seorang kyai ahli Tashawuf. Beliau selalu memperhatikan kesehatan, Pendidikan, Politik, dan kemajuan.

penulis mengambil ini dari hasil karya KH JauharHata Hasan…..semoga bermanfaat .amiin

kyai ku : mengenal abuya dimyati (cidahu, pandeglang, banten)

Biografi KH Muhammad Dimyati © KH Muhammad Dimyati atau dikenal dengan Abuya Dimyati adalah sosok yang kharismatis. Beliau dikenal sebagai pengamal tarekat Syadziliyah dan melahirkan banyak santri berkelas. Mbah Dim begitu orang memangilnya.

Nama lengkapnya

Muhammad Dimyati bin Syaikh Muhammad Amin. Dikenal sebagai ulama yang sangat kharismatik. Muridnya ribuan dan tersebar hingga mancanegara. Abuya dimyati orang Jakarta biasa menyapa, dikenal sebagai sosok yang sederhana dan tidak kenal menyerah. Hampir seluruh kehidupannya didedikasikan untuk ilmu dan dakwah.

Menelusuri kehidupan ulama Banten ini seperti melihat warna-warni dunia sufistik. Perjalanan spiritualnya dengan beberapa guru sufi seperti Kiai Dalhar Watucongol. Perjuangannya yang patut diteladani. Bagi masyarakat Pandeglang Provinsi Banten Mbah Dim sosok sesepuh yang sulit tergantikan. Lahir sekitar tahun 1919 dikenal pribadi bersahaja dan penganut tarekat yang disegani.

Abuya Dimyati juga kesohor sebagai guru pesantren dan penganjur ajaran Ahlusunah Wal Jama’ah. Pondoknya di Cidahu, Pandeglang, Banten tidak pernah sepi dari para tamu maupun pencari ilmu. Bahkan menjadi tempat rujukan santri, pejabat hingga kiai. Semasa hidupnya, Abuya Dimyati dikenal sebagai gurunya dari para guru dan kiainya dari para kiai. Masyarakat Banten menjuluki beliau juga sebagai pakunya daerah Banten. Abuya Dimyati dikenal sosok ulama yang mumpuni. Bukan saja mengajarkan ilmu syari’ah tetapi juga menjalankan kehidupan dengan pendekatan tasawuf. Abuya dikenalsebagai penganut tarekat Naqsabandiyyah Qodiriyyah.

Tidak salah kalau sampai sekarang telah mempunyai ribuan murid. Mereka tersebar di seluruh penjuru tanah air bahkan luar negeri. Sewaktu masih hidup , pesantrennya tidak pernah sepi dari kegiatan mengaji. Bahkan Mbah Dim mempunyai majelis khusus yang namanya Majelis Seng. Hal ini diambil Dijuluki seperti ini karena tiap dinding dari tempat pengajian sebagian besar terbuat dari seng. Di tempat ini pula Abuya Dimyati menerima tamu-tamu penting seperti pejabat pemerintah maupun para petinggi negeri. Majelis Seng inilah yang kemudian dipakainya untuk pengajian sehari-hari semenjak kebakaran hingga sampai wafatnya.

Lahir dari pasangan H.Amin dan Hj. Ruqayah sejak kecil memang sudah menampakan kecerdasannya dan keshalihannya. Beliau belajar dari satu pesantren ke pesantren seperti Pesantren Cadasari, Kadupeseng Pandeglang. Kemudian ke pesantren di Plamunan hingga Pleret Cirebon.

Abuya berguru pada ulama-ulama sepuh di tanah Jawa. Di antaranya Abuya Abdul Chalim, Abuya Muqri Abdul Chamid, Mama Achmad Bakri (Mama Sempur), Mbah Dalhar Watucongol, Mbah Nawawi Jejeran Jogja, Mbah Khozin Bendo Pare, Mbah Baidlowi Lasem, Mbah Rukyat Kaliwungu dan masih banyak lagi. Kesemua guru-guru beliau bermuara pada Syech Nawawi al Bantani. Kata Abuya, para kiai sepuh tersebut adalah memiliki kriteria kekhilafahan atau mursyid sempurna, setelah Abuya berguru, tak lama kemudian para kiai sepuh wafat.

Kata Abuya, para kiai sepuh tersebut adalah memiliki kriteria kekhilafahan atau mursyid sempurna disamping sebagai pakunya negara Indonesia. Setelah Abuya berguru, tak lama kemudian para kiai sepuh wafat.

Ketika mondok di Watucongol, Abuya sudah diminta untuk mengajar oleh Mbah Dalhar. Satu kisah unik ketika Abuya datang pertama ke Watucongol, Mbah Dalhar memberi kabar kepada santri-santri besok akan datang ‘kitab banyak’. Dan hal ini terbukti mulai saat masih mondok di Watucongol sampai di tempat beliau mondok lainya, hingga sampai Abuya menetap, beliau banyak mengajar dan mengorek kitab-kitab. Di pondok Bendo, Pare, Abuya lebih di kenal dengan sebutan ‘Mbah Dim Banten’. Karena, kewira’iannya di setiap pesantren yang disinggahinya selalu ada peningkatan santri mengaji.

Semasa hidupnya, Abuya Dimyati dikenal sebagai gurunya dari para guru dan kiainya dari para kiai. Masyarakat Banten menjuluki beliau juga sebagai pakunya daerah Banten.

Saking pentingnya ngaji dan belajar, satu hal yang sering disampaikan dan diingatkan Mbah Dim adalah: “Jangan sampai ngaji ditinggalkan karena kesibukan lain atau karena umur”. Pesan ini sering diulang-ulang, seolah-olah Mbah Dim ingin memberikan tekanan khusus; jangan sampai ngaji ditinggal meskipun dunia runtuh seribu kali!

Salah satu cerita karomah yang diceritakan Gus Munir adalah, dimana ada seorang kyai dari Jawa yang pergi ke Maqam Syeikh Abdul Qadir al-Jailani di Irak. Ketika itu, kyai tersebut merasa sangat bangga karena banyak kyai di Indonesia paling jauh mereka ziarah adalah maqam Nabi Muhammad SAW. Akan tetapi dia dapat menziarahi sampai ke Maqam Syeikh Abdul Qadir al-Jailani. ketika sampai di maqam tersebut, maka penjaga maqam bertanya padanya, “darimana kamu (Bahasa Arab)”.
si Kyai menjawab, “dari Indonesia”.

maka penjaganya langsung bilang, “oh di sini ada setiap malam Jum’at seorang ulama Indonesia yang kalau datang ziarah dan duduk saja depan maqam, maka segenap penziarah akan diam dan menghormati beliau, beliau membaca al-Qur’an, maka penziarah lain akan meneruskan bacaan mereka.”

Maka Kyai tadi kaget, dan berniat untuk menunggu sampai malam Jum’at agar tahu siapa sebenarnya ulama tersebut. Ternyata pada hari yang ditunggu-tunggu, ulama tersebut adalah Abuya Dimyati. Maka kyai tersebut terus kagum, dan ketika pulang ke Jawa, dia menceritakan bagaimana beliau bertemu Abuya Dimyati di maqam Syeikh Abdul Qadir al-Jailani (ketika itu Abuya masih di pondok dan mengaji dengan santri-santrinya).

Di balik kemasyhuran nama Abuya, beliau adalah orang yang sederhana dan bersahaja. Kalau melihat wajah beliau terasa ada perasaan ‘adem’ dan tenteram di hati orang yang melihatnya.

Abuya Dimyathi menempuh jalan spiritual yang unik. Beliau secara tegas menyeru: “Thariqah aing mah ngaji!” (Jalan saya adalah ngaji). Sebab, tinggi rendahnya derajat keulamaan seseorang bisa dilihat dari bagaimana ia memberi penghargaan terhadap ilmu. Sebagaimana yang termaktub dalam surat al-Mujadilah ayat 11, bahwa Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan. Dipertegas lagi dalam hadits nabi al-Ulama’u waratsatul anbiya’, para ulama adalah pewaris para nabi.

Ngaji sebagai sarana pewarisan ilmu. Melalui ngaji, sunnah dan keteladanan nabi diajarkan. Melalui ngaji, tradisi para sahabat dan tabi’in diwariskan. Ahmad Munir berpendapat bahwa ilmu adalah suatu keistimewaan yang menjadikan manusia unggul atas makhluk lain guna menjalankan fungsi kekhalifahannya.

Alam Spritual

Dibanding dengan ulama kebanyakan, Abuya Dimyati ini menempuh jalan spiritual yang unik. Dalam setiap perjalanan menuntut ilmu dari pesantren yang satu ke pesantren yang lain selalu dengan kegiatan Abuya mengaji dan mengajar. Hal inipun diterapkan kepada para santri. Dikenal sebagai ulama yang komplet karena tidak hanya mampu mengajar kitab tetapi juga dalam ilmu seni kaligrafi atau khat. Dalam seni kaligrafi ini, Abuya mengajarkan semua jenis kaligrafi seperti khufi, tsulust, diwani, diwani jally, naskhy dan lain sebagainya. Selain itu juga sangat mahir dalam ilmu membaca al Quran.

Bagi Abuya hidup adalah ibadah. Tidak salah kalau KH Dimyati Kaliwungu, Kendal Jawa Tengah pernah berucap bahwa belum pernah seorang kiai yang ibadahnya luar biasa. Menurutnya selama berada di kaliwungu tidak pernah menyia-nyiakan waktu. Sejak pukul 6 pagi usdah mengajar hingga jam 11.30. setelah istirahat sejenak selepas Dzuhur langsung mengajar lagi hingga Ashar. Selesai sholat ashar mengajar lagi hingga Maghrib. Kemudian wirid hingga Isya. Sehabis itu mengaji lagi hingga pukul: 24 malam. Setelah itu melakukan qiyamul lail hingga subuh.

Di sisi lain ada sebuah kisah menarik. Ketika bermaksud mengaji di KH Baidlowi, Lasem. Ketika bertemu dengannya, Abuya malah disuruh pulang. Namun Abuya justru semakin menggebu-gebu untuk menuntut ilmu. Sampai akhirnya kiai Khasrtimatik itu menjawab, “Saya tidak punya ilmu apa-apa.”

Sampai pada satu kesempatan, Abuya Dimyati memohon diwarisi thariqah. KH Baidlowio pun menjawab,”Mbah Dim, dzikir itu sudah termaktub dalam kitab, begitu pula dengan selawat, silahkan memuat sendiri saja, saya tidak bisa apa-apa, karena tarekat itu adalah sebuah wadzifah yang terdiri dari dzikir dan selawat.” Jawaban tersebut justru membuat Abuya Dimyati penasaran. Untuk kesekian kalinya dirinya memohon kepada KH Baidlowi. Pada akhirnya Kiai Baidlowi menyuruh Abuya untuk sholat istikharah. Setelah melaksanakan sholat tersebut sebanyak tiga kali, akhirnya Abuya mendatangi KH Baidlowi yang kemudian diijazahi Thariqat Asy Syadziliyah.

Abuya Dimyati Dipenjara

Mah Dim dikenal seagai salah satu orang yang sangat teguh pendiriannya. Sampai-sampai karena keteguhannya ini pernah dipenjara pada zaman Orde Baru. Pada tahun 1977 Abuya sempat difitnah dan dimasukkan ke dalam penjara. Hal ini disebabkan Abuya sangat berbeda prinsip dengan pemerintah ketika terjadi pemilu tahun tersebut. Abuya dituduh menghasut dan anti pemerintah. Abuya pun dijatuhi vonis selama enam bulan. Namun empat bulan kemudian Abuya keluar dari penjara.

Ada beberapa kitab yang dikarang oleh Abuya Dimyati. Diantaranya adalah Minhajul Ishthifa. Kitab ini isinya menguraikan tentang hizib Nashr dan hizib ikhfa. Dikarang pada bulan Rajab H 1379/1959 M. Kemudian kitab Ashlul Qodr yang didalamya khususiyat sahabat saat perang Badr. Tercatat pula kitab Roshnul Qodr isinya menguraikan tentang hizib Nashr. Rochbul Qoir I dan II yang juga sama isinya yaitu menguraikan tentang hizib Nashr. Selanjutnya kitab Bahjatul Qolaid, Nadzam Tijanud Darori. Kemudian kitab tentang tarekat yang berjudul Al Hadiyyatul Jalaliyyah didalamnya membahas tentang tarekat Syadziliyyah.

Wafatnya Abuya

Abuya Dimyati meninggalkan kita semua pada Malam Jumat pahing, 3 Oktober 2003 M/07 Sya’ban 1424 H, sekitar pukul 03:00 wib umat Muslim, khususnya warga Nahdlatul Ulama telah kehilangan salah seorang ulamanya, KH. Muhammad Dimyati bin KH. Muhammad Amin Al-Bantani, di Cidahu, Cadasari, Pandeglang, Banten dalam usia 78 tahun. 

semoga adanya situs blog ini dapat bermanfaat.amiin.

Kyai Ku : Biografi Singkat KH Abdul Fatah

Simbah KH Abdul Fatah berasal dari Desa Sawangan Madukara, pada saat Beliau berumur 15 tahun Beliau pernah menjadi penjaga kursi yang khusus hanya diduduki oleh orang Belanda, di suatu malam Beliau penasaran apakah hanya orang Belanda saja yang bisa duduk di atasnya, kemudian Beliau menduduki kursi tersebut hingga patah, karena kejadian tersebut Beliau sangat ketakutan dan melarikan diri jauh hingga ke Jawa Timur.Sesampainya di sana Beliau menuntut ilmu ( nyantri ) Di Desa Mangunsari Kecamatan Nganjuk, Jawa Timur kurang lebih 15 tahun. Beliau adalah sosok yang sangat Prihatin, selama nyantri Beliau makan dengan cara mencampurkan kerikil ke nasinya.Setelah bertahun-tahun nyantri Beliau pulang ke Desa kelahirannya. Setelah beberapa lama di rumah Beliau ingin pergi ke Kota Banjarnegara hingga sampai di Desa Parakancanggah, ketika itu hari sudah sore dan Beliau ingin sholat maghrib. Kemudian Beliau mencari mushola namun tidak menemukannya, kemudian Beliau Singgah di rumah Mbah Danurejo Lurah Desa setempat untuk menjalankan sholat maghrib. Setelah selesai, Beliau ditannya tentang asal usulnya oleh Mbah Danurejo, setelah lama Beliau berbincang-bincang dengan Mbah Danurejo, Mbah daburejo tertarik dan mengagumi sosok Beliau, tentang apa yang telah Beliau ceritakan. Setelah itu Mbah danurejo menawarkan untuk menjodohkan putrinya yang bernama Ny.Sinnun dengan  Mbah Abdul Fatah, dan waktu itupun juga Mbah Danurejo memperkenalkan putrinya dengan Mbah Abdul Fatah. Setelah Mbah Abdul Fatah dan Nyai sinnun saling menperkenalkan dirinya masing masing,merekapun terlihat saling mempunyai  ketertarikan di dalam perkenalan itu,dan dengan perkenalan itupun mbah Abdul Fatah menerima permintaan mbah Danurejo untuk menikahkannya dengan Nyai Sinnun.tidak lama dari pertemuan itu mbah Abdul Fatah dan Nyai Sinnun pun menikah,dan di beri tanah oleh Mbah Danurejo untuk dikelola.Tanah itupun di jadikan tempat tinggal,dan sebagian tanah itu untuk mendirikan mushola.Musola itu di dirikan untuk tempat peribadahan dan mengaji oleh penduduk setempat.Tidak lama kemudian Mbah Abdul Fatah mendirikan Pondok Pesantren, dan beliau sendiri yang menjadi pengajar di Pondok Pesantren itu.Dari pernikahan tersebut dengan Nyai Sinnun ,beliau di karuniai 4 putra putri yaitu (Nyai Damanhuri,Nyai Hamzah,Kyai Hasan,Kyai Ridlo).

Puasa (كتاب بيان احكام الصيام)

Assalamualaikum wr. wb

pada kali ini kami akan mengulas tentang puasa berdasarkan kajian kitab Fathul qorib. Pastinya sudah tidak asing lagi dengan puasa. puasa adalah Rukun islam yang ke 4. Rukun sendiri adalah sesuatu yang harus kita kerjakan beda dengan Syarat yang berarti apa – apasaja yang harus disiapkan. Puasa atau Shiam secara etimologi berarti mengekang (menahan), namun secara Syara’ shiam berarti menahan diri dari hal – hal yang dapat merusak puasa, dengan niat tertentu, sepanjang siang hari. Yang boleh melakukan puasa adalah seorang Muslim yang berakal, (bagi wanita) suci dari haid dan nifas. Adapun Syarat – syarat wajibnya ada 4, yaitu : Beragama Islam, baligh (cukup umur), sehat akalnya (tidak gila), kuat dalam berpuasa. Namun Syarat yang terakhir ini telah tercantum dalam ke 3 naskah tersebut, maka tidak heran ada yang berpendapan ada 3.

Fardhunya puasa ada 4 yaitu : 1. Niat di dalam hati, untuk puas wajib. Niat dilakukan pada malam hari. Niat itu wajib dinyatakan untuk puasa fardhu seprti puasa Ramadhan. 2. Menahan makan dan minum, walaupun hanya sedikit. namun jika karena lupa atau orang itu bodoh dan juga orang yang baru mengenal islam maka tidak batal. 3.Bersetubuh dengan disengaja. Tapi apabila lupa maka tidak batal. 4. menahan muntah dengan disengaja

Hal – hal merusak puasa ada 10 :

1.dan2 sengaja memaskkan benda kedalam lubang tubuh, baik lubang yang terbuka maupun yang tertutup.

3.menyemprotkan obat ke dalam salah satu dari dua lubang. itu kubul atau dubur.

4.sengaja muntah

5.sengaja bersetubuh

6.Inzal, yaitu mengelurkan mani tanpa bersetubuh baik itu dengan cara yang haram ataupun tidak.

7.Haid dan nifas

8.hilangnya akal

9.Gila

10.Murtad

itulah tadi sedikit ulasan tentang Shiam. semoga dengan bacaan ini dapat pengetahuan dan menjadikan puasa kita menjadi lebih sempurna. sekian semoga bermanfaat. terimakasiih

Perkembangan ilmu mantiq ( logika )

Ilmu Mantiq ( Logika )

Ilmu Mantiq ( logika ) muncul dan berkembang pertama kali di negara Yunani dipelopori oleh Aristoteles. Bagi bangsa Yunani, dan bahkan bangsa di seluruh dunia, Aristoteles adalah ikon dari rasinalitas. Dia adalah peletak dasar cara berpikir yang tersusun dalam premis – premis dan kemudian ditarik konklusi. Apa yang dilakukan oleh Aristoteles disebut Mantik (logika). pada sekitar abad ke – 2 M bangsa Arab mengadobsinya dan ditarjemahkan sebatas segi bahasa yaitu kalam dan talaffud tanpa menghubungkan dengan makna sebenarnya yang digunakan di Yunani.

Dalam kilas sejarah, ilmu mantiq berkembang setelah terjadi penarjemahan secara besar – besaran yang diprakasai oleh kholifah Al – Ma’mun dari dinasti Abbasiah. Ketika itu, Al – Ma’mun bermimpi dengan Aristoteles. Pembicaraannya mengarah bahwa sumberkebenaran adalah akal. Maka Al – Ma’mun segera mengirim delegasi untuk mempelajari ilmu tersebut di Roma dan ditarjemahkan ke bahasa Arab. ilmu ini diklasifikasikan oleh kaum Khowarij sebagai salah satu dari sembilan cabang pokok dari ilmu.

Perdebatan Oleh Para Ulama

Penolakan dari ilmu ini baru terjadi pada masa Imam Al Ghazali dengan kitabnya yang berjudul Tahafud Al Falasifah pada pertengahan abad ke 2. Ini dikarenakan ilmu mantiq terlalu mengagngkan pada logika, kemudian mulai beranjak menggunakan mantiq dalam memperkuat sendi – sendi akidah seperti singgungan iman Ghazali pada kitab Al Munqidz min Al Dhalal. masih banyak lagi ulama yang menolak mantiq seperti Al Mutawakkil. Muncullah Ibnu Rusy yang melawan para pemikir islam tadi yang ditulis dalam kitab Tahafut Al Tahafut. Perjalanan Ilmu MAntiq mulai tersebar di Andalus dan Persia dari abad ke 12 hingga abad ke 13 M. Ketika mantik dianggap hanya dibutuhkan dalam filsafat, Imam Ghazali memberikan inovasi baru yaitu membawa mantiq masuk pada ilmu kalam, nahwu, fiqh dan ilmu sosial. karena logika adalah perantara dalam segala hal, tidak hanya problem – problem teologis dan filsafat saja. Sejak itu Imam Ghazali melegitimasi umat islam untuk mempelajari logika dalam kepasitasnya sebagai kewajiban komunal (Fardhu Kifayah). * sekian semoga bermanfaat , kunjungi terus web kami tentunya akan ada ulasan – ulasan yang menarik *

Ciri – Ciri Sistem Pakar

Ciri – ciri sistem pakar menurut Syasudin aries (2004) adalah :

a. Memiliki fasilitas informasi yang han
dal
b. Mudah dimodifikasi
c. Dapat digunakan dalam berbagai jenis komputer
d. Memiliki kemampuan untuk belajar beradaptasi
e. Bekerja secara sistematis berdasarkan pengetahuan dan mekanisme tertentu
f. Pengambilan keputusan berdasarkan kaidah – kaidah tertentu dan dapat merespons masukkan user
g. Dapat menalar data – data yang tidak pasti dan memberikan beberapa alasan pemilihan
h. Dikembangkan secara bertahap dan terbatas pada bidang tertentu
i. Outputnya berupa saran atau anjuran

Design a site like this with WordPress.com
Get started